BUDAYA BACA CALON PEMIMPIN BANGSA
Oleh :
Musmuallim
PW IPNU Jawa Tengah 2009-2012
Oleh :
Musmuallim
PW IPNU Jawa Tengah 2009-2012
- Pendahuluan
Jika kita berpikir menetap di suatu tempat selama beberapa tahun, mulailah bertanam padi. Jika kita berpikir menetap untuk waktu lebih lama lagi, mulailah bertanam pohon. Tetapi, jika kita mau menetap untuk selamanya, mulailah mendidik manusianya (Confusius).
Falsafah dari uraian diatas merupakan bagian penting atas pemaknaan kehidupan seseorang. Dikaitkan kaum muda, falsafah ini merupakan sebuah agenda besar yang direncanakan untuk menatap kehidupan melalui langkah progresif dengan memperhatikan perputaran waktu. Eksistensi seseorang diawali dengan menentukan planning oriented untuk ketahanan hidup dan mutualisme pada setiap fase kehidupan.
Membangun sebuah peradaban manusia dimulai dengan mendidik manusianya. Tentunya dengan melalui proses pendidikan. Mendidik manusia merupakan orientasi mendasar membangun kekuatan peradaban untuk mendapatkan kedigjayaan sebuah negeri. Apalagi bagi bangsa yang gandrung akan sumber daya alam keemasan yang melimpah ruah. Ada keseimbangan antara kekayaan alam dengan kecerdasan bangsa yang dielaborasikan menjadi bangunan eksplorasi membangun di negeri sendiri.
Manusia yang mampu melakukan perubahan di dunia adalah mereka yang mempunyai nalar perubahan. Bangunan karakteristik dan mentalitas yang bermuara pada kepribadian bangsa. Nalar perubahan dan karakter bangsa akan dimiliki bagi mereka yang telah mengenyam proses pendidikan. Karena mendidik manusia pada suatu bangsa berorientasi pada harapan perubahan masa depan anak cucu bangsa. Karena pemuda hari ini, adalah produk pendidikan yang akan membawa dan memberikan pencerdasan dan perubahan bangsa.
Membangun manusia Indonesia seutuhnya diharapkan mampu tercipta sebagai cita-cita luhur bangsa. Selanjutnya, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bagian falsafah dan cita luhur. Dengan diawali dengan proses pendidikan bagi segenap bangsa ini, yang diorientasikan pencerdasan bangsa dan lahirnya masyarakat yang tercerahkan. Terkikisnya kondisi masyarakat yang tertinggal, yang dibelenggu oleh kebodohan dan kemiskinan. Proses pencerdasan bangsa dilakukan dengan transformasi knowledge, value, social, ketiga pokok ini memberikan harapan akan perubahan atas ketertinggalan dan keterbelakangan bagi masyarakat tertentu di negeri tercinta ini.
Sepakat dengan Confusius, bahwa dalam jangka panjang suatu masyarakat mempertahankan hidupnya dengan melakukan proses pendidikan bagi manusianya. Mendidik manusia, mempunyai orientasi perubahan di masa mendatang. Bagaimana memulai pendidikan dengan melakukan perubahan paradigma masyarakat untuk tergerak maju. Dalam konteks kaum muda, mampu melakukan tekstualisasi dan kontekstualisasi proses pendidikan melalui transformasi tradisi keilmuan, dengan membudayakan membaca, menulis dan mendiskusikan serta memberikan pertimbangan solusi penyelesaian dalam merespon persoalan bangsa yang melanda.
- Interpretasi Kekinian Pemuda
Pemuda saat ini masih mempunyai peranan penting dalam menetukan arah perubahan bangsa. Pemaknaan atas pemuda perlu ditempatkan pada kapasitasnya sebagai agent of change dan agent of axeleration. Secara psikologis, pemuda mempunyai usia yang bernilai kesemangatan, jiwa yang penuh dengan harapan dan perubahan. Hasrat berubahnya sesuai dengan semangatnya yang membuncah. Bahkan terkadang sampai lepas kendali, karena pendekatan yang digunakan didominasi oleh faktor emosional, bukan menggunakan pendekatan rasional.
Menurut Yudi Latif sebagaimana dikutip oleh Aziz Syamsuddin, bahwa secara sosial, definisi pemuda adalah generasi antara umur 20 sampai 40 tahun. Sedang beberapa referensi lain ada yang menyebutkan usia 18 hingga 35 tahun. Sementara, dalam kajian ilmu sosial, puncak kematangan peran publik seorang manusia berkisar antara umur 40-60 tahun (Aziz Syamsuddin, 2008: 8).
Suatu pemaknaan bagi pemuda dalam skala umur yang menempatkan pemuda pada posisi sentral dalam perubahan, mengingat dalam jiwa pemuda selalu ada hasrat yang dinamis. Selain itu, disisi lain pemuda memiliki fisik yang kuat dan tangguh dibandingkan dengan usia diatas atau dibawahnya. Mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi dalam berkarya dan menemukan ide atau gagasan yang cemerlang bersama idealismenya.
Kini, seiring dengan gejolak sosial, politik dan ekonomi, keberadaan pemuda banyak sering bersinggungan dengan konflik SARA, kasus kenakalan, dan pergaulan bebas. Selain itu, dalam skala tertentu kaum muda hilir mudik menceburkan diri pada situasi politik praktis yang kurang etis, yang berujung permusuhan dan perpecahan antar kelompok bahkan sekelompok.
Melihat persoalan ini, tentunya kembali kepada pendekatan yang digunakan. Menempatkan sisi kematangan pemuda pada pendekatan rasional dan humanitas, bukan menggunakan ranah pendekatan emosional yang sesaat. Hanya karena berbeda pilihan partai politik, sampai berujung pada permusuhan yang menghancurkan kesatuan kelompoknya. Sungguh ironis dan menyedihkan. Perlu diluruskan bahwa tingkat kesemangatan dan produktivitas dipersemaikan pada ruang ekspresi yang mendukung.
- Produktivitas Pemuda; Agen Perubahan
Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam, tanahnya subur dan makmur. Secara komoditi pangan, pada dasarnya bangsa ini mampu untuk melakukan pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri. Secara global, kebutuhan secara fisik bagi sebagian masyarakat sudah terpenuhi. Tinggal bagaimana mempertahankan kepunyaan segala sumber daya yang dimiliki oleh bangsa ini. Maka faktor manusianya, yang terpenting didalam mempertahankan dan memberdayakan segala potensi kekayaan sumber daya.
Ciri khas dari seorang muda adalah semangatnya yang menyala-nyala, bahkan terkadang kurang memiliki perhitungan. Secara nalar, kaum muda memiliki paradigma visioner dan progresif. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa usia muda adalah usia yang paling produktif dalam diri manusia (Aziz Syamsuddin, 2008: 9).
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu kita optimalkan keberadaannya. Pasalnya, sampai banyak kalangan kaum muda yang kelewatan menyalahgunakan teknologi untuk sekedar hiburan, bahkan oleh oknum tertentu digunakan sebagai instrumen penyebar perusak moralitas bangsa. Tontonan yang tidak seharusnya, menjadi layak konsumsi, hingga anak di bawah umur. Kekeliruan ini berimplikasi pada bangunan karakter bangsa yang rapuh dan mudah terbawa arus globalisasi.
Sebutan bahwa pemuda adalah ”agen perubahan”, seakan-akan menemukan bentuk perwujudannya, terutama dalam konteks Indonesia (Aziz Syamsuddin, 2008: 8). Melihat peran yang demikian, pemuda dalam merespon dan menanggulangi gejolak implikasi negatif iptek, mempunyai kemampuan untuk melakukan filterisasi yang selektif. Selain moralitas bangsa yang perlu digarap, tingkat produktivitas pemuda dalam menghasilkan karya emas untuk bangsa dan negara harus diaktualisasikan.
Kekuatan sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, tidak bisa diragukan keberadaannya. Kemudian sumber daya manusia yang dapat dan mampu bersaing dengan persaingan dunia global. Kedua kekuatan ini, menjadi sinergi dalam membangun sebuah peradaban bangsa yang dibarengi dengan paradigma visioner dan progresif yang dimiliki. Kemudian melakukan proses pembacaan dan identifikasi atas gejolak sosial sebagai sebuah realitas kehidupan di masyarakat.
Kepemimpinan kaum muda dalam merespon gejolak sosial masih dapat diandalkan. Sebab dengan menggunakan sinergitas kekuatan SDA dan SDM serta kekuatan bacaan atas teks dan konteks (realitas sosial) yang berparadigma visioner dan progresif menjadi dasar dan modal pemimpin untuk melangkah melakukan perubahan disegala bidang. Produktivitas agen perubahan akan membawa kemandirian bagi generasi penerus, kematangan (kedewasaan) dalam berpikir dan bertindak.
- Pendidikan Kaum Muda Pemimpin Bangsa
Pendidikan yang paling fundamental berada pada lingkungan keluarga. Pendidikan keluarga menjadi basis penguatan dan penanaman ideologi dasar dalam mengenal diri dan lingkungannya. Sebagai bagian yang integral dari keluarga, transformasi etika (ajaran) tentang bagaimana mengenali jatidiri dan realitas sosial diawali dari sentuhan mesra pendidikan lingkungan keluarga.
Pendidikan berpusat pada kesejahteraan dan keutuhan hidup bersama antara ibu dan bapak. Karena telah menjadi adat kebiasaan yang turun-temurun bahwa di pundak ibu dan bapaklah yang bertanggungjawab atas segala hal ihwal kehidupan anak-anaknya. Dengan adanya kebiasaan itu maka para ibu dan bapak merasa harus bertindak sebagai contoh (kaca benggala) untuk anak cucu dan keturunan mereka selanjutnya (HM. Nasruddin Anshoriy Ch dan GKR Pembayun, 2008: 12).
Kalau kita pahami bahwa pendidikan keluarga berorientasi pada kedigjayaan masa depan sebagaimana konsep long life education. Pendidikan kaum muda calon pemimpin bangsa diperoleh pada mula pendidikan keluarga sebagai pendidikan pertama yang menjadi representasi bagi proses pendidikan berikutnya. Pendidikan kedua didapat diluar lingkungan keluarga (sekolah dan masayarakat). Pada segmen masyarakat pendidikan, pemuda dididik dan berproses dengan transformasi keilmuan membangun peradabannya untuk masa mendatang.
- Budaya Membaca Budaya Pemimpin Bangsa Cerdas
Keaksaraan bagi sebuah bangsa merupakan kebutuhan mendasar dalam kancah intelektual. Dinamika membaca, menulis dan diskusi sebagai wahana mencerdaskan kehidupan bangsa untuk transformasi keilmuan menjadi bagian penting dan integral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena melalui dinamika transformasi keilmuan inilah kehidupan akan semakin tercerdaskan. Sebagaimana harapan yang termaktub dalam UUD 1945. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dinamika keaksaraan pada dasarnya harus dimiliki oleh para pemimpin bangsa. Penguasaan pembacaan atas kebutuhan masyarakat dilakukan lewat sejauhmana pemimpin mampu membaca kondisi riil masyarakatnya. Budaya baca bagi diri pemimpin akan dapat merefleksikan atas kebutuhan rakyatnya. Kecerdasan seorang pemimpin dalam memimpin tanpa dibarengi dengan proses pembacaan yang kuat, akan mengakibatkan kebijakan yang tidak mendukung rakyatnya. Terbukti, sekuat apapun Hitler, tumbang juga dengan egosentris dan karakter militeristik yang cenderung otoriter. Artinya bahwa membaca (teks dan konteks) bagi pemimpin merupakan kebutuhan mendasar dalam memahami dinamika bangsanya. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membaca kondisi bangsanya sendiri dari dalam bangsanya, bukan dari luar yang seolah-olah tidak ikut didalamnya.
Bagi pemimpin bangsa, memajukan bangsanya melalui penguasaan dan penalaran keaksaraan perlu diperhatikan serius. Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan agenda mendasar bagi perubahan mentalitas karakter bangsa. Melalui budaya baca misalnya, orang akan cepat menerima segala informasi yang terjadi hari ini. Sebab, budaya baca merupakan komponen budaya masyarakat yang perlu dilestarikan sebagai sebuah kebutuhan. Kritis terhadap persoalan yang terjadi, tanggap atas problem bangsa, selanjutnya membuka ruang diskusi untuk dieksplorasikan segala penemuan persoalan bangsa dan penemuan solusi cerdas bagi perubahan.
Solusi perubahan yang ditawarkan dari ruang diskusi akan membawa partisipasi aktif kaum muda. Gerakan yang dilakukan pemuda tidak hanya sampai pada dataran mengkritisi kebijakan pemerintah saja, namun lebih dari pada itu, ikut serta dalam menentukan arah kebijakan yang pro kepada rakyat.
Selanjutnya, adanya proses diskusi kaum muda menghantarkan pada langkah kritis melalui tulisan. Karya dalam bentuk tulisan sebagai sarana menyampaikan aspirasi dan informasi terkait gejala atau problem bangsa yang telah membelenggu bangsa. Karena tulisan adalah produk pemikiran yang dibangun atas konstruksi pemikiran yang terdiri atas tiga komponen penting, yakni klaim, argumen dan data (Suara Merdeka, 11 April 2009).
Kemudian, bagi Pramudya Ananta Toer, semua yang dilakukan atau segala gerakan bagi seseorang dimulai dengan pikirannya. Perubahan paradigma melalui proses mentradisikan budaya baca bagi bangsanya. Telah banyak dibuktikan kekuatan agen perubahan mulai dari sejarah kemerdekaan bangsa ini, sampai beberapa kabar terakhir para pejuang pemuda kita mampu mengalahkan negara-negara maju, dalam kompetisi olimpiade sains sedunia, atlet kita menjuarai kompetisi olahraga tingkat dunia. Terakhir seorang mahasiswa Indonesia (kasus: David) yang kuliah dan berprestasi di Singapura.
- Kesimpulan
Melalui budaya baca, pemimpin mengajak segenap bangsa untuk melakukan rekonsiliasi kebangsaan, merevitalisasi sistem pemerintahan, dan langkah pembangunan bangsa. Melalui transformasi keilmuan dengan mentradisikan budaya ilmiah melalui pendekatan baca, menulis dan diskusi membincang persoalan bangsa beserta alternatif solusinya. Budaya baca calon pemimpin bangsa dilakukan dengan pendekatan nilai, artinya melalui proses transformasi knowledge dan social. Tradisi keilmuan diimplementasikan melalui pendidikan keluarga sebagai orientasi hasil dari penanaman nilai untuk perubahan paradigma bangsa. Karena berpikir untuk kehidupan masa depan (waktu lama), dimulai dengan mendidik manusianya.
Kepustakaan
Aziz Syamsuddin, Kaum Muda Menatap Masa Depan Indonesia, Jakarta: PT. Wahana Semesta Intermedia, 2008.
Harian Suara Merdeka, 11 April 2009.
HM. Nasruddin Anshoriy Ch dan GKR Pembayun, Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikultural, Yogyakarta: PT. LKiS, 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar