Sabtu, 21 Mei 2011

 
TIADA HARI TANPA TRANSAKSI; DARI BANGUN HINGGA TIDUR LAGI
Mengamati ”Warung Modern” Depan Eks Pusat Kegiatan
Oleh : Musmuallim


Demam” Warung Modern
Warung di depan pusat kegiatan kita sungguh unik. Hampir setiap saat tak lekang oleh pengunjung atau pembeli. Entah karena memang letaknya yang strategis atau memang barang yang disediakan dapat menjawab semua kebutuhan konsumen, atau barangkali masyarakat sudah ”kecanduan” dengan trend-konsumeris yang membudaya pada masyarakat kekinian. Kalau dilihat sepintas, sangat jarang alias sedikit sekali pembeli yang menggunakan sepeda ontel, lebih banyak didominasi oleh pembeli yang menggunakan motor atau mobil, yang hanya untuk sekedar memuaskan ”nafsu” untuk membeli apa yang menjadi keinginan dan kebutuhannya. Letak warung ini persis berada di depan eks Pusat Kegiatan kita, yaitu di Jalan Suparto Purwosari Baturraden Banyumas.

Merupakan salah satu dari sekian banyak warung dengan konsep mini market yang kemungkinan telah merebak di belantara jagad pelosok nusantara. Tak jarang pengunjung yang datang, baik masyarakat sekitar atau orang yang sedang dalam perjalanan. Karena tampilannya yang menawan, sehingga banyak masyarakat yang cenderung lebih menyukai untuk berbelanja di warung yang satu ini. Entah apa yang menjadikan sebagian masyarakat ”kegandrungan” dengan kehadirannya. Padahal kalau kita cermati, banyak warung kecil eceran disekeliling (rumah) kita yang juga menyediakan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang tidak kalah kualitas dengan warung itu.

Tidak sedikit warung kecil yang ”dimatikan” eksistensinya, karena sebagian masyarakat enggan untuk membeli barang yang ada di warung kecil. Kita lebih tertarik membeli atau belanja di mini market yang notabene bukan punya saudara atau tentangga kita. Minimal ketika kita membeli ke warung kecil punya tetangga atau saudara kita, akan ada simbiosis-ekonomi yang menguntungkan. Transaksi di warung kecil selain akan memberikan kerjasama pelaku dalam konteks jual-beli, juga akan semakin merekat rasa persaudaraan dan kepercayaan antartetangga dan saudara.

Perilaku Konsumtif
Masyarakat kita semakin hari semakin terjebak dengan perilaku konsumtif. Realitas ini penulis kira bukan hanya penulis saja yang sepakat, namun pembaca juga saya kira demikian. Pasalnya, kita bisa melihat perilaku masyarakat disekeliling kita atau anggota keluarga kita terdekat atau bahkan diri kita sendiri, sadar atau tidak, telah melakukan hal itu. Sifat konsumtif akan selalu dimiliki oleh sebagian masyarakat, yang mana setiap orang memiliki potensi untuk mencapai keinginan dan kepuasannya. Sehingga terkadang apapun akan dilakukan untuk mendapatkan atau memperoleh apa yang menjadi ”nafsu” asanya.

Dalam ilmu sosial, kita mengenal istilah konsumerisme. Adalah sebuah faham yang lebih mengedepankan sikap menghabiskan segala apa yang telah didapatkan dengan segala fasilitas dan kapital (modal) yang dimilikinya. Sikap ini lebih banyak dimiliki oleh kaum pemodal (kapitalis) atau mereka yang memiliki banyak harta dan kekayaan, yang sering kita sebut dengan kaum borjuis. Hal ini yang kemudian memunculkan virus ekonomi bagi bangsa.

Konsep ekonomi kerakyatan yang selalu digembar-gemborkan oleh pemimpin bangsa ini menjadi alot adanya. Ekonomi kerakyatan yang menjadi basis utama ekonomi bangsa semakin terkikis, dihadang dengan pola pasar bebas yang diusung oleh kaum pemodal yang membawa virus ekonomi kapitalis-liberalis yang lebih mengedepankan perilaku trend-konsumtif pada masyarakat dari pada melihat akan prioritas kebutuhan.

Trend Belanja ala Modern
Sekarang ini, orang merasa lebih ngeh, lebih ngetrend, lebih gaya, lebih prestisius, lebih ngotani, lebih gaul, lebih percaya diri, lebih tinggi, lebih diakui dan sebagainya, apabila belanja di mini market atau super market ”warung modern” dibandingkan belanja di pasar tradisional atau di warung kecil di sebelah rumah kita. Kecenderungannya karena praktis, bebas memilih tanpa ada proses tawar menawar, sehingga konsumen dapat mengukur kemampuan daya belinya sendiri.

Namun perilaku ini, lebih didominasi oleh perilaku konsumtif yang lebih mengedepankan ”hedonisitas”. Sehingga secara perlahan dan teratur, pasar tradisional lambat laun akan ditinggalkan oleh masyarakatnya, yang mana terkadang hanya membeli ”sabun mandi” saja harus ke ”warung modern”, padahal warung kecil disamping rumah kita juga menyediakan lengkap barang itu. Ini mengherankan.

Bahkan, bukan orang dewasa saja yang melakukan pola perilaku itu, anak-anak dibawah umur sudah dekat dan lebih kenal dengan ”warung modern” daripada warung kecil atau pasar tradisional. Karena setiap kali berbelanja, para orang tua menyertakan dan mengajarkan anak-anaknya untuk lebih melakukan transaksi jual beli di ”warung modern”. Sejak dini dalam diri mereka sudah tertanam bahwa untuk membeli barang keperluannya hanya dapat dibeli di ”warung modern”.

Transaksi; dari Bangun Tidur, hingga Tidur lagi
Realitas ”warung depan” memberikan pengertian kepada kita (minimal bagi penulis) bahwa ternyata sekarang ini sebagian masyarakat kita sudah terjangkit dengan trend-belanja warung ini (mungkin sebagian mengatakan belanja ala modern). Terlepas dari itu, yang lebih memiriskan bagi kaum warung kecil seolah-olah tidak diberi kesempatan untuk meraup pembeli apalagi untung. Pasalnya, warung ini buka dari mulai pukul 07.00 hingga pukul 23.00, itu artinya secara pangsa pasar, akan mematikan eksistensi warung kecil. Dengan gaya yang seperti ini, akses yang dimiliki cukup lama dan luas.

Artinya durasi waktu yang digunakan untuk penjualan cukup lama, kemudian setiap orang siapapun dapat membeli dengan leluasa. Karena warung dapat secara luas diakses dan dijangkau pembeli dalam radius beberapa kilometer. Terutama mereka yang sedang dalam perjalanan atau masyarakat sekitar dapat dengan mudah memperoleh apa yang diinginkannya selama waktu itu.

Disisi lain, kalau melihat jam dagang mereka, nampak sekali tidak ada mandegnya, buka warung jam 07.00, artinya sejak mereka bangun tidur sudah melihat barang dan uang dalam transasksi, yang dalam bahasa sederhana penulis, bahwa dari bangun tidur sudah berhadapan dengan uang sekali lagi uang. Sehingga pelaku akan memiliki banyak sekali pendapatan, kalau boleh kita mengkalkulasi berapa banyak pendapatan yang diperoleh? Secara kuantitas materi, kita (terutama penulis) sudah kalah dengan mereka yang baru melek saja sudah dapat uang, sementara kita (terutama penulis) tertinggal jauh, masih berkutat pada aktivitas pribadi. Ini luarbiasa.

Kemudian, ketika waktu menunjukan pukul 23.00 maka warung itu akan tutup, bahkan dihari tertentu jam tutup bisa saja diperpanjang sampai dini hari. Saat kebanyakan orang mulai terlelap asyik bercengkerama dengan keheningan malam, namun aktivitas di warung ini masih berjalan. Tak heran jika ada sebagian petugas atau karyawannya yang sekaligus tinggal (alias nginep, ngekost) di mess warung. Hal ini menunjukkan suatu tingkat produktivitas yang tinggi melalui transaksi yang diberlakukan sampai larut malam. Sehingga kalau dihitung-hitung berapa pendapatan atau omset warung dalam sehari dikali dengan jumlah warung sejenis yang tersebar diseluruh pelosok nusantara? Luar biasa.

Muhasabah
Lantas, bagaimana dengan kita? Secara materi, mungkin kita kalah jauh dengan mereka yang bergelut disana. Artinya bahwa bangun tidur saja mereka sudah pegang uang, sedangkan kita (lebih tepatnya penulis)? Tulisan ini bukan sedang bermaksud memperspektifkan perilaku dengan norma tertentu, namun lebih kepada muhasabah atas perilaku yang ada disekeliling kita. Sebagai orang yang terpelajar, tentu kita akan mengambil satu nilai positif yang dapat dimanifestasikan pada kehidupan.

Almuhafadhatu ala qadimish shalih wal akhdu bil jadidil ashlah, bagaimana mengambil hal yang baru yang baik tanpa meninggalkan yang lama yang baik pula, artinya bahwa kita harus paham bahwa apa yang semestinya kita lakukan, tidak harus menghilangkan tradisi yang memang pada dasarnya sudah menjadi pribadi bangsa dan untuk kesejahteraan bangsa. Kita tidak usah latah akan perubahan disekeliling kita, tapi bagaimana perubahan itu membawa kepada kebaikan yang menunjang cara kita melakukan segala aktivitas tanpa meninggalkan norma dan etika.
Wallahu a’lam bish shawab.


Purwokerto, 9 April 2011


Musmuallim
Departemen Kaderisasi PW IPNU Provinsi Jawa Tengah 2009-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar